Connect with us

AGAMA

Jika lelaki boleh beristri lebih dari satu, mengapa wanita tidak boleh bersuami lebih dari satu (poliandri)

Published

on

sfafasd

Jika lelaki boleh beristri lebih dari satu, mengapa wanita tidak boleh bersuami lebih dari satu (poliandri)

“Jika lelaki boleh beristri lebih dari satu, mengapa wanita tidak boleh bersuami lebih dari satu (poliandri)?”. Mari kita simak jawabannya.

1. Ketentuan Dari Allah

Aturan bahwa wanita tidak boleh memiliki beberapa suami dalam satu waktu adalah ketentuan Allah Ta’ala. Tidak ada pilihan lain bagi seorang hamba yang beriman kepada Allah kecuali menaati dan menerima dengan sepenuh hati setiap ketentuan-Nya. Karena orang yang beriman kepada Allah-lah yang senantiasa taat dan tunduk kepada hukum agama. Allah berfirman,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Hanya ucapan orang-orang beriman, yaitu ketika mereka diajak menaati Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya tersebut memutuskan hukum diantara kalian, maka mereka berkata: Sami’na Wa Atha’na (Kami telah mendengar hukum tersebut dan kami akan taati). Merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. An Nuur: 51)

Tidaklah apa yang Allah tentukan untuk hamba-Nya melainkan pasti memiliki hikmah yang besar bagi sang hamba. Namun sang hamba wajib pasrah kepada ketentuan itu baik tahu akan hikmahnya, maupun tidak tahu hikmahnya. Kaidah fiqhiyyah mengatakan:

الشَارِعُ لَا يَـأْمُرُ إِلاَّ ِبمَا مَصْلَحَتُهُ خَالِصَةً اَوْ رَاجِحَةً وَلاَ يَنْهَى اِلاَّ عَمَّا مَفْسَدَتُهُ خَالِصَةً اَوْ رَاجِحَةً

“Islam tidak memerintahkan sesuatu kecuali mengandung 100% kebaikan, atau kebaikan-nya lebih dominan. Dan Islam tidak melarang sesuatu kecuali mengandung 100% keburukan, atau keburukannya lebih dominan”

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Kaidah ini meliputi seluruh ajaran Islam, tanpa terkecuali. Sama saja, baik hal-hal ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), baik yang berupa hubungan terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS. An Nahl: 90)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa setiap keadilan, kebaikan, silaturahim pasti diperintahkan oleh syariat. Setiap kekejian dan kemungkaran terhadap Allah, setiap gangguan terhadap manusia baik berupa gangguan terhadap jiwa, harta, kehormatan, pasti dilarang oleh syariat. Allah juga senantiasa mengingatkan hamba-Nya tentang kebaikan perintah-perintah syariat, manfaatnya dan memerintahkan menjalankannya. Allah juga senantiasa mengingatkan tentang keburukan hal-hal dilarang agama, kejelekannya, bahayanya dan melarang mereka terhadapnya” (Qawaid Wal Ushul Al Jami’ah, hal.27)

Adapun dalil tentang terlarangnya poliandri, diantaranya firman Allah Ta’ala:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا * وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاء إِلاَّ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللّهِ عَلَيْكُمْ

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu” (QS. An Nisaa: 23-24)

Dalam Tafsir Ibni Katsir dijelaskan makna وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاء maksudnya: ‘Diharamkan bagimu menikahi para wanita ajnabiyah yang muhshanat yaitu yang sudah menikah’. Ibnu Katsir juga membawakan riwayat yang menjelaskan sebab turunnya ayat ini:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: أَصَبْنَا نِسَاءً مِنْ سَبْيِ أَوْطَاسَ، وَلَهُنَّ أَزْوَاجٌ، فَكَرِهْنَا أَنْ نَقَعَ عَلَيْهِنَّ وَلَهُنَّ أَزْوَاجٌ، فَسَأَلْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، فَنَزَلَتْ هذه الآية: {وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ} [قَالَ] فَاسْتَحْلَلْنَا فُرُوجَهُنَّ

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata: “Kami mendapat wanita dari suku Authas yang ditawan, para wanita itu memiliki suami lebih dari satu. Kami enggan bersetubuh dengan mereka karena mereka memiliki suami. Kamipun bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam, lalu turunlah ayat (yang artinya) ‘Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki‘. Dengan itu kami pun mengganggap mereka halal dicampuri” (Tafsir Ibni Katsir, 2/256)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أَنَّ النِّكَاحَ فِي الجَاهِلِيَّةِ كَانَ عَلَى أَرْبَعَةِ أَنْحَاءٍ …. وَنِكَاحٌ آخَرُ: يَجْتَمِعُ الرَّهْطُ مَا دُونَ العَشَرَةِ، فَيَدْخُلُونَ عَلَى المَرْأَةِ، كُلُّهُمْ يُصِيبُهَا، فَإِذَا حَمَلَتْ وَوَضَعَتْ، وَمَرَّ عَلَيْهَا لَيَالٍ بَعْدَ أَنْ تَضَعَ حَمْلَهَا، أَرْسَلَتْ إِلَيْهِمْ، فَلَمْ يَسْتَطِعْ رَجُلٌ مِنْهُمْ أَنْ يَمْتَنِعَ، حَتَّى يَجْتَمِعُوا عِنْدَهَا، تَقُولُ لَهُمْ: قَدْ عَرَفْتُمُ الَّذِي كَانَ مِنْ أَمْرِكُمْ وَقَدْ وَلَدْتُ، فَهُوَ ابْنُكَ يَا فُلاَنُ، تُسَمِّي مَنْ أَحَبَّتْ بِاسْمِهِ فَيَلْحَقُ بِهِ وَلَدُهَا، لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَمْتَنِعَ بِهِ الرَّجُلُ

“Pernikahan di masa Jahiliyah ada empat cara …(beliau lalu menyebutkannya)… jenis pernikahan yang lain (jenis ketiga) yaitu sejumlah orang yang jumlahnya kurang dari 10 berkumpul lalu masuk menemui seorang wanita. Setiap mereka menyetubuhinya. Setelah beberapa waktu sejak malam pengantin itu, jika ternyata ia hamil, ia pun memanggil semua suaminya. Tidak ada seorang pun dari suaminya yang dapat menghalangi, hingga semua suaminya berkumpul. Wanita itu berkata: ‘Wahai suamiku, kalian sudah tahu apa yang kalian telah lakukan kepadaku dan itu memang sudah hak kalian. Dan sekarang aku hamil. Dan anak ini adalah anakmu wahai Fulan’. Wanita itu menyebut salah satu nama suaminya sesuka dia, lalu menasabkan anaknya pada suaminya tersebut. Tidak ada seorang pun dari suaminya yang dapat menghalangi” (HR. Bukhari no.5127)

Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam menyifati poliandri sebagai perilaku jahiliyah. Sebagaimana dijelaskan para ulama :

كل ما نسب إلى الجاهلية فهو مذموم

“Setiap perkara yang dinisbatkan pada Jahiliyyah adalah sesuatu yang tercela”

Jadi, mengapa poliandri tidak dibolehkan? Jawabannya, karena Allah Ta’ala telah menentukan demikian. Satu jawaban ini sejatinya sudah cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut bagi orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika masih ada yang penasaran lalu bertanya lagi ‘kenapa sih koq bisa-bisanya Allah menentukan demikian?‘, jawablah dengan firman Allah Ta’ala :

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Allah tidak ditanyai oleh hamba, namun merekalah yang akan ditanyai oleh Allah” (QS. Al Anbiya: 23)

2. Lelaki adalah pemimpin keluarga

Islam juga mengatur bahwa lelaki adalah pemimpin rumah tangga. Allah Ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)” (QS. An Nisaa: 34)

Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam juga bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Setiap kalian adalah orang yang bertanggung jawab. Setiap kalian akan dimintai pertanggung-jawabannya. Seorang imam adalah orang yang bertanggung jawab dan akan dimintai pertanggung-jawabannya. Seorang lelaki bertanggung jawab terhadap keluarganya dan akan dimintai pertanggung-jawabannya. Seorang wanita bertanggung jawab terhadap urusan di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggung-jawabannya” (HR. Bukhari 893, Muslim 1829)

Oleh karena itu, seorang istri wajib taat kepada suaminya selama bukan dalam perkara maksiat. Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, taat kepada suaminya akan dikatakan padanya kelak: ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau inginkan’” (HR. Ahmad 1661, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ 1/660)

Nah, jika seorang wanita memiliki lebih dari satu suami, apakah organisasi rumah tangga akan berjalan dengan banyak pemimpin? Suami mana yang akan ditaati? Bagaimana jika para suami berselisih dan memberi perintah berlainan?

3. Cobaan terbesar bagi lelaki adalah wanita, namun tidak sebaliknya

Cobaan terbesar dan terdahsyat serta paling menjatuhkan seorang lelaki pada titik terendahnya adalah wanita. Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam sering kali mewanti-wanti hal ini. Beliau bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan cobaan yang paling berbahaya bagi kaum lelaki selain wanita” (HR. Bukhari 5096, Muslim 2740)

Beliau Shallallahu’alahi Wasallam juga bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Berhati-hatilah dari fitnah dunia dan waspadalah terhadap wanita. Karena cobaan pertama yang melanda Bani Israil adalah wanita” (HR. Muslim 2742)

Tentang godaan setan, Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sesungguhnya tipu-daya setan itu lemah” (QS. An Nisaa: 76)

Namun tentang godaan wanita, Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya godaan wanita itu sangat dahsyat” (QS. Yusuf: 28)

Oleh karena itulah Allah Al Hakim, Yang Maha Bijaksana, mensyariatkan poligami (baca: poligini) bagi laki-laki sebagai salah satu jalan untuk meringankan cobaan dari godaan wanita. Namun sebaliknya, tidak kita dapati dalil yang menunjukkan bahwa cobaan terbesar wanita adalah godaan pria. Ini adalah salah satu hikmah mengapa poliandri tidak disyariatkan.

4. Menjaga kejelasan nasab

Dalam Islam, anak dinasabkan kepada ayahnya. Dan masalah nasab ini sangat urgen dalam Islam. Sampai-sampai mencela nasab dan menasabkan diri kepada selain ayah kandung dikategorikan oleh para ulama sebagai perbuatan dosa besar. Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda :

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ، وَهُوَ يَعْلَمُ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

“Barangsiapa menasabkan diri kepada selain ayah kandungnya, padahal ia tahu ayah kandungnya, maka surga haram baginya” (HR. Bukhari 4326, Muslim 63)

Sebagaimana juga hadits marfu’ dari Ibnu ‘Umar Radhiallahu’anhu:

خِلاَلٌ مِنْ خِلاَلِ الجَاهِلِيَّةِ الطَّعْنُ فِي الأَنْسَابِ وَالنِّيَاحَةُ

“Diantara perbuatan orang Jahiliyyah adalah mencela nasab” (HR. Bukhari 3850)

Di antara sebabnya, nasab menentukan banyak urusan, seperti dalam pernikahan, nafkah, pembagian harta warisan, dll.

Jika satu wanita disetubuhi oleh beberapa suami, maka tidak jelas anak yang lahir dari rahimnya adalah hasil pembuahan dari suami yang mana, sehingga tidak jelas akan dinasabkan kepada siapa.

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata: “Pernyataan ‘laki-laki dibolehkan menikahi empat orang wanita, namun wanita tidak dibolehkan menikahi lebih dari satu lelaki‘, ini adalah salah satu bentuk kesempurnaan sifat hikmah dari Allah Ta’ala kepada mereka. Juga bentuk ihsan dan perhatian yang tinggi terhadap kemaslahatan makhluk-Nya. Allah Maha Tinggi dan Maha Suci dari kebalikan sifat tesebut. Syariat Islam pun disucikan dari hal-hal yang berlawanan dengan hal itu. Andai wanita dibolehkan menikahi dua orang lelaki atau lebih, maka dunia akan hancur. Nasab pun jadi kacau. Para suami saling bertikai satu dengan yang lain, kehebohan muncul, fitnah mendera, dan bendera peperangan akan dipancangkan” (I’laamul Muwaqqi’in, 2/65)

Beberapa Syubhat

1. Jika yang menjadi kekhawatiran adalah percampuran nasab, bukankah sekarang sudah ada tes DNA?

Syaikh Abdullah Al Faqih hafizhahullah menjawab pertanyaan ini: ”Poliandri dapat menjadi sebab terjangkitnya berbagai penyakit berbahaya seperti AIDS atau yang lainnya. Selain itu, tidak adanya keteraturan dalam rumah tangga karena tidak adanya patokan nasab dan anak-anak pun menjadi kacau. Adapun pemeriksaan medis yang sebutkan itu (cek DNA), tidak bisa dipastikan 100%. Sehingga tidak bisa menjadi sandaran secara syar’i dalam penetapan nasab atau dalam mengingkarinya”. (Fatawa IslamWeb no.112109, http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=112109)

2. Kalau lelaki punya keinginan kepada banyak wanita karena alasan syahwat, bukankah wanita juga punya syahwat?

Ibnul Qayyim berkata, “Jika ada yang berkata ‘Mengapa hanya memperhatikan dan mengangkat sisi kaum lelaki saja, serta hanya memenuhi kebutuhan syahwat lelaki saja sehingga mereka bisa berganti dari istri yang satu kepada istri yang lain sesuai kebutuhan syahwatnya? Padahal wanita juga memiliki panggilan syahwat‘. Kita jawab, wanita itu sebagaimana kebiasaan mereka wajahnya terlindungi oleh cadar dan berada di rumah-rumah mereka, gejolak mereka pun lebih dingin dibanding laki-laki, pergerakan lahir dan batin mereka lebih sedikit dibanding laki-laki, oleh karena itulah lelaki yang diberi kekuatan dan gejolak panas yang merupakan kunci penguasaan syahwat. Itu diberikan kepada laki-laki dalam jumlah yang lebih besar. Bahkan kaum laki-laki pun mendapat cobaan karena hal itu, sedangkan wanita tidak. Sehingga dimutlakkan bagi laki-laki berupa banyaknya jumlah pernikahan yang bolehkan (dalam satu waktu) sedangkan wanita tidak. Ini adalah hal yang dikhususkan dan dilebihkan oleh Allah untuk kaum laki-laki. Sebagaimana juga Allah utamakan mereka dalam hal pengembanan risalah, kenabian, khilafah, kerajaan, kepemimpinan hukum, jihad dan hal lainnya.

Allah juga menjadikan lelaki pemimpin bagi wanita, yang berkewajiban menjaga maslahah istrinya dan menjalani berbagai resiko dalam mencari penghidupan istrinya. Mereka menunggang kuda, menjelajah gurun, menghadapi berbagai bencana dan ujian demi kemaslahatan sang istri. Allah Ta’ala itu Syakuur (Sebaik-baik Pemberi Ganjaran) dan Haliim (Maha Pemurah). Sehingga Allah memberi balasan kepada kaum lelaki berupa kebolehan berpoligami, dan mengganti segala kesusahan mereka itu dengan membolehkan hal-hal yang tidak dibolehkan bagi wanita. Dan anda yang berkata, jika anda membandingkan antara cobaan bagi lelaki berupa lelah-letih, kerja keras, kesusahan yang dialami kaum lelaki demi masalahat istrinya dengan cobaan yang dialami kaum wanita yang berupa kecemburuan, anda akan dapatkan bahwa apa yang dialami kaum lelaki itu jauh lebih besar kadarnya. Inilah salah satu bentuk sempurnanya keadilan, kebijaksanaa dan kasih sayang Allah Ta’ala. Segala puji bagi Allah sebab memang Dialah yang memiliki segala pujian” (I’laamul Muwaqqi’in, 2/65-66)

3. Syahwat wanita lebih besar dari syahwat lelaki

Karena syahwat wanita lebih besar dari lelaki, maka bagi wanita tidak cukup hanya satu suami. Demikian bunyi salah satu syubhat. Ibnul Qayyim membantah pernyataan ini: “Adapun perkataan seseorang bahwa syahwat wanita lebih besar dari syahwat lelaki, ini tidak benar. Syahwat itu sumbernya dari hawa panas. Hawa lelaki lebih panas dari wanita. Namun wanita, jika ia sendiri, kesepian, dan ia tidak bisa menahan diri dari hal-hal yang berhubungan dengan syahwat dan memuaskan dirinya, maka ia pun dapat ditenggelamkan oleh syahwat sehingga syahwat menguasai dirinya. Ketika tidak ada hal yang dapat menjadi pelampiasan, bahkan disertai perasaan kesepian, maka bisa terjadi apa yang terjadi. Sehingga ketika itu disangkalah bahwa syahwat wanita lebih besar dari laki-laki. Ini tidak benar. Telah dibuktikan bahwa lelaki bisa mencampuri istrinya lalu mencampuri istrinya yang lain dalam satu waktu.

كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ فِي اللَّيْلَةِ الْوَاحِدَةِ

‘Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam biasa menggilir istri-istrinya dalam satu malam‘

Bahkan Nabi Yusuf Sulaiman menggilir 90 orang istrinya dalam satu malam. Dan sudah kita ketahui bersama bahwa wanita biasanya hanya memiliki satu kali klimaks. Jika seorang lelaki telah memuaskan seorang wanita, hingga terpenuhi syahwatnya, dan hilang nafsunya, wanita tersebut tidak akan meminta yang lain ketika itu. Maka, sifat demikian sesuai dengan hikmah dari takdir Allah dan hikmah ketetapan syariat bagi hamba dan ummat” (I’laamul Muwaqqi’in, 2/66)

Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

AGAMA

Wirid Lepas Solat & Zikir – Panduan Lengkap

Published

on

Wirid Lepas Solat & Zikir - Panduan Lengkap

Wirid Lepas Solat & Zikir – Panduan Lengkap

Solat adalah merupakan rukun islam yang kedua dan perintah yang wajib dilaksanakan oleh semua umat Islam. Selepas menunaikan solat, membaca wirid lepas solat dan zikir adalah salah satu amalan yang dianjurkan. 

Rasulullah SAW bersabda kepada Muaz:

يَا مُعَاذُ إِنِّي اُحِبُّكَ لا تَدَعْ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ، اَللَّهُمَّ أعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Maksudnya: “Hai Muaz, aku menyayangimu. Justeru jangan kamu tinggalkan untuk berdoa setiap kali selepas solat dengan membaca doa ini: Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingatimu, bersyukur kepadamu dan membaikkan dalam beribadah kepadamu.”

Riwayat Ahmad (no: 22119), Abu Daud (no: 1524), dan al-Nasaie dalam Sunan al-Kubra (no: 9937). Dinilai sahih oleh Ibn Hibban dalam Sahihnya (no: 2020), dan Ibn Khuzaimah dalam Sahihnya (no: 751)


Makna Wirid Lepas Solat & Zikir

Wirid lepas solat merujuk kepada bacaan atau amalan yang dilakukan selepas menunaikan solat fardhu. Ia biasanya terdiri daripada ayat-ayat Al-Quran, zikir, dan doa-doa tertentu. 

Wirid lepas solat bukanlah satu ritual, tetapi merupakan cara untuk memanjatkan kesyukuran, memohon keberkatan, keampunan dan sebagainya daripada Allah SWT.

Zikir pula bermaksud mengingati Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang mulia atau memuji-Nya.  Ia boleh dilakukan pada bila-bila masa termasuklah selepas menunaikan solat. 

Seperti yang didefinisikan oleh Syeikh Abdul Rahman al-Sa’di, zikir secara umum adalah meliputi segala perkara yang mendekatkan seseorang hamba dengan Allah SWT dari segi aqidah, pemikiran, amalan hati, amalan badan atau pujian ke atas Allah atau mempelajari ilmu berfaedah atau mengajarinya atau seumpama dengannya. (Lihat Al-Riyadh al-Nadhirah, hlm. 245)

Secara khususnya pula, zikir merujuk kepada lafaz-lafaz tertentu yang disyariatkan oleh Allah SWT seperti membaca al-Qur’an, menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi dengan bibir atau di dalam hati sebagaimana yang termaktub di dalam al-Qur’an, atau pun lafaz-lafaz yang disyariatkan menerusi lidah Rasulullah SAW yang memberi erti pujian, penyucian, pengudusan dan pengesaan terhadap Allah SWT. (Lihat Al-Zikr wa Atharuh fi Dunya al-Muslim wa Akhiratih, hlm. 17-20)

BACA JUGA: Doa Iftitah Rumi: Bacaan Doa Iftitah Dalam Solat (Video)


Bacaan Wirid Selepas Solat & Zikir 

Wirid Lepas Solat & Zikir - Panduan Lengkap

LEPAS_SOLAT_2.PNG

1. Beristighfar

Selepas memberi salam, dimulakan dengan berzikir sebagaimana diterangkan oleh Baginda Rasulullah SAW, maksudnya:

Daripada Tsauban berkata: Rasulullah SAW apabila selesai menunaikan solat, Baginda beristighfar tiga kali.. (SAMBUNGAN)

 أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ 

(lafaznya sekadar mengucapkan) : Astaghfirullah – Maksudnya : Aku memohon ampun kepada Allah) 

Dalam hadis yang diriwayatkan daripada Ibnu Mas‟ud, katanya

Maksudnya :  Daripada Ibnu Mas‟ud berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW; “Sesiapa yang beristighfar dengan lafaz: 

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه

Nescaya akan diampunkan dosa-dosanya walaupun antara dosanya itu adalah kerana melarikan diri dari medan perang”. 

Hadis ini adalah sahih dan boleh diamalkan pada bila-bila masa tanpa terhad kepada selepas waktu solat sahaja. 

2. Membaca Zikir Al-Salam 

Selepas memberi salam, dimulakan dengan berzikir sebagaimana diterangkan oleh Baginda Rasulullah SAW, maksudnya:

Daripada Tsauban berkata: Rasulullah SAW apabila selesai menunaikan solat, Baginda beristighfar tiga kali.. (SAMBUNGAN) >> kemudian menyebut:

‏ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

Maksudnya :  Ya Allah, Engkaulah yang memiliki kesejahteraan, dan daripada-Mu asal kesejahteraan itu, segala keberkatan adalah milik Engkau Ya Allah yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Amalan bacaan yang diamalkan oleh para solihin Madinah al Munawwarah dengan bacaan : 

للَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ فَحَيِّنَارَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَاَدْخِلْنَا الْـجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَاالْـجَلَالِ وَاْلإِكْرَام

Maksudnya : Ya Allah, Engkaulah Penyelamat, daripada Engkaulah keselamatan, dan kepada Engkaulah kembali keselamatan. Maka hidupkanlah kami wahai Tuhan dalam selamat sejahtera. Masukkan kami ke syurga, tempat yang penuh kesejahteraan. Maha sucilah Engkau wahai Tuhan kami, Tuhan yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.  

3. Membaca Zikir Mengesakan Allah & Menjauhi Syirik

“Daripada Abu Zar bahawa Rasulullah SAW telah bersabda: Sesiapa yang membaca selepas sembahyang subuh dan ia masih kekal kedua kakinya (masih tetap di tempat solatnya),  sebelum dia berkata-kata  sesuatu yang lain:  

لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

sebanyak sepuluh (10) kali, maka tercatat baginya sepuluh kebaikan dan dihapuskan darinya sepuluh kesalahan serta diangkat baginya sepuluh darjat, dan pada hari itu ia berada dalam perlindungan dari segala yang tidak disukai, serta terjaga dari gangguan syaitan, dan tidak ada dosa yang dapat membatalkan amal perbuatannya pada hari itu kecuali syirik kepada Allah.”  

(Hadis Riwayat At Tirmidzi no. 3474)

4.  Membaca Tasbih, Tahmid Dan Takbir

Terdapat banyak hadis yang membicarakan tentang Nabi SAW membaca zikir tasbih, tahmid dan takbir selepas solat. Namun begitu, hadis-hadis yang diriwayatkan adalah berbeza dari segi kaifiat dan bilangannya. 

Kebanyakan ulama mentarjihkan bacaan zikir: 

  • Subhanallah  – 33 kali
  • Alhamdulillah – 33 kali
  • Allahuakbar – 33 kali

Lalu mencukupkan bilangan ke-100 dengan membaca:

لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

Ini berdasarkan hadis daripada Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda:

Maksudnya: Daripada Abi Hurairah daripada Rasulullah SAW bersabda: Sesiapa yang bertasbih “Subhanallah” setiap kali selesai solat  33 kali, dan bertahmid “Alhamdulillah” 33 kali, dan bertakbir “Allahuakbar” sebanyak 33 kali lalu disempurnakan bilangan 100 dengan: 

لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

Maka diampunkan semua dosanya, meskipun sebanyak buih di lautan. 

(Hadis riwayat Muslim) 

5. Membaca Zikir Menjauhi Api Neraka

“Apabila kamu selesai solat subuh, bacalah doa berikut sebelum kamu berbicara dengan orang lain:

 اَللَّهُمَّ أَجِرْنِـى مِنَ النَّارِ 

(sebanyak 7 kali)

Jika pada hari itu kamu mati maka Allah akan menetapkan bahawa kamu dijauhi daripada api neraka. Jika kamu selesai solat maghrib, ucapkanlah doa ini sebelum kamu berbicara dengan orang lain:

 اَللَّهُمَّ أَجِرْنِـى مِنَ النَّارِ 

(sebanyak 7 kali)

Jika malam itu kamu mati, maka Allah tetapkan bahawa kamu dijauhi daripada api neraka.”   

Hadis ini adalah sahih menurut Al-Imam al-Hafiz Ibnu Hajar maka diperbolehkan untuk beramal. 

6. Membaca Ayat Kursi

ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌۭ وَلَا نَوْمٌۭ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍۢ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

Maksudnya: 

Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Tetap hidup, Yang Kekal selama-lamanya mentadbirkan (sekalian makhlukNya). Yang tidak mengantuk usahkan tidur. Yang memiliki segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. 

Tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat (pertolongan) di sisiNya melainkan dengan izinNya. yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari (kandungan) ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki (memberitahu kepadanya). 

Luasnya Kursi Allah (ilmuNya dan kekuasaanNya) meliputi langit dan bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta memelihara keduanya. Dan Dia lah Yang Maha Tinggi (darjat kemuliaanNya), lagi Maha Besar (kekuasaanNya)

“Daripada Abi Umamah berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: “Siapa yang membaca ayat al-Kursi tiap-tiap lepas solat fardhu, maka tidak ada yang menghalangnya untuk masuk syurga kecuali menunggu saat matinya.”  

(Hadis Riwayat an Nasa‟i dan Ibnu Hibban) – Hadis ini adalah sohih. 

7. Membaca Al-Mu’awwidzat

Daripada Uqbah bin Amir berkata: Rasulullah SAW telah memerintahkan aku supaya aku membaca al-mu’awwidzat (surah Al-Ikhlas, surah Al-Falaq, dan surah An-Nas) setelah selesai solat.

8. Membaca Al Fatihah

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ 

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ ٢ 

ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣ 

مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ ٤ 

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ٥ 

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ ٦ 

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

9. Membaca Doa Selepas Solat

Selesai membaca wirid selepas solat, zikir dan Al fatihah, anda boleh teruskan dengan membaca doa-doa pilihan selepas solat atau berdoa mengikut kesesuaian anda. Antara doa pilihan selepas solat ialah:

Wirid Lepas Solat & Zikir - Panduan Lengkap

Wirid Lepas Solat & Zikir - Panduan Lengkap

Wirid Lepas Solat & Zikir - Panduan Lengkap

Wirid Lepas Solat & Zikir - Panduan Lengkap

Wirid Lepas Solat & Zikir - Panduan Lengkap

No photo description available.

No photo description available.

No photo description available.

Muat Turun Bacaan Wirid Selepas Solat & Zikir (PDF)

Muat turun panduan bacaan wirid selepas solat dan zikir yang diterbitkan oleh Jabatan Mufti Negeri Pahang >>>HUKUM-ZIKIR-SELEPAS-SOLAT


Adab dalam Berzikir

Walaupun zikir boleh dilakukan pada bila-bila masa dan di mana sahaja, terdapat beberapa adab yang harus diikuti untuk memastikan zikir yang dilakukan diterima oleh Allah SWT. Antaranya ialah:

1. Bersih dari Hadas

Walaupun tidak diwajibkan, adalah lebih baik jika seseorang itu berada dalam keadaan bersih atau berwudhu sebelum berzikir. Ini menunjukkan penghormatan kita terhadap amalan yang dilakukan.

2. Menghadap Kiblat

Sebaiknya ketika berzikir, kita duduk menghadap kiblat. Ini adalah sunnah yang menunjukkan disiplin dan tertib dalam beribadah.

3. Berzikir dengan Suara Perlahan

Zikir yang dilakukan dengan suara yang perlahan lebih baik daripada yang dilakukan secara kuat. Ini kerana ia lebih mendekatkan diri kepada Allah dan membantu kita lebih fokus kepada makna setiap bacaan.

BACA JUGA: Adab Bangunkan Anak Dari TIDUR, Supaya Otak Cerdas Dan Badan Segar


Kelebihan Mengamalkan Wirid Selepas Solat & Zikir

1. Mendapat Keberkatan Hidup

Salah satu kelebihan utama mengamalkan wirid lepas solat ialah memperoleh keberkatan dalam kehidupan. Setiap kali kita selesai menunaikan solat, kita berpeluang untuk bermunajat dan mengingati Allah SWT. 

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Sesiapa yang mengucapkan ‘Subhanallah’ sebanyak 33 kali, ‘Alhamdulillah’ 33 kali, dan ‘Allahu Akbar’ 34 kali selepas solat, maka segala dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih di lautan” (HR. Muslim). 

Ini jelas menunjukkan betapa besarnya ganjaran bagi mereka yang konsisten dalam mengamalkan wirid

2. Ketenangan Jiwa dan Hati

Zikir merupakan salah satu cara untuk menenangkan hati dan jiwa. Bagi mereka yang sering merasa resah atau gelisah, memperbanyakkan zikir selepas solat dapat membantu menenangkan fikiran dan jiwa. Amalan zikir ini juga mampu membantu kita lebih fokus dalam kehidupan harian, sekaligus menjauhkan diri dari gangguan syaitan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: “Ketahuilah dengan mengingati Allah itu, hati akan menjadi tenang” (Surah Ar-Ra’d: 28). 

3. Menghapuskan Dosa-dosa Kecil

Selain itu, wirid dan zikir lepas solat juga berfungsi untuk menghapuskan dosa-dosa kecil yang dilakukan tanpa sedar. 

Rasulullah SAW mengajarkan kita beberapa bacaan wirid yang mempunyai keistimewaan dalam menghapus dosa-dosa kecil. 

Sebagai contoh, membaca “Astaghfirullah” sebanyak 3 kali selepas solat adalah salah satu cara untuk memohon keampunan daripada Allah SWT atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Walaupun kita tidak sempurna dan sering melakukan kesilapan, Allah SWT Maha Pengampun kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat.

Rujukan:

  1. IRSYAD HUKUM KE-9: BACAAN WIRID DAN DOA SELEPAS SOLAT – Mufti WP
  2. HUKUM-ZIKIR-SELEPAS-SOLAT – JABATAN MUFTI NEGERI PAHANG
  3. Zikir Selepas Solat – Jabatan Mufti Negeri Perlis
  4. Doa Pilihan Selepas Solat – Jabatan Kemajuan Islam Malaysia – JAKIM
Continue Reading

AGAMA

Doa Khatam Quran Lengkap – Teks Arab & Bacaan Rumi

Published

on

Doa Khatam Quran Lengkap - Teks Arab & Bacaan Rumi

 Doa Khatam Quran Lengkap – Teks Arab & Bacaan Rumi

Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai panduan hidup bagi umat Islam. Ia mengandungi petunjuk, hukum, dan ajaran yang membimbing kita dalam menjalani kehidupan seharian. 

Di dalam Al-Quran terdapat 30 juzuk yang merangkumi 6,236 ayat, masing-masing mengandungi pelbagai kisah dan pengajaran yang bernilai. 

Setelah  selesai membaca semua 30 juzuk, adalah disarankan untuk membaca doa khatam quran seperti yang dijelaskan dalam artikel Mufti WP

Tsabit bin Qais R.A berkata:

كَانَ أَنَسٌ إِذَا خَتَمَ الْقُرْآنَ جَمَعَ وَلَدَهُ وَأَهَلَ بَيْتِهِ فَدَعَا لَهُمْ

Maksudnya: Adalah Anas apabila mengkhatamkan al-Quran, beliau menghimpunkan anaknya dan ahli keluarganya di rumah beliau kemudian berdoa bagi mereka.

Riwayat al-Darimi (3801)

Imam Al-Nawawi juga menyebutkan sejumlah riwayat berkenaan kelebihan berdoa selepas khatam al-Quran berkata: “Dan tersangatlah disukai (oleh syarak) akan perbuatan berdoa selepas mengkhatamkan al-Quran sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelum ini”.


Apa Itu Khatam Quran?

Khatam berasal dari perkataan Arab yang bermaksud “menamatkan” atau “menyelesaikan”. Khatam Quran bermaksud membaca Al-Quran secara lengkap dari surah Al-Fatihah hingga surah An-Nas.

Khatam Quran dianggap pencapaian spiritual yang penting bagi umat Islam. Ia melambangkan komitmen seseorang dalam mendalami kitab suci.

Tiada had masa tertentu untuk mengkhatamkan Al-Quran. Ada yang melakukannya dalam tempoh sebulan, seminggu atau lebih lama bergantung kepada keupayaan individu. Bulan Ramadhan sering menjadi pilihan ramai untuk mengkhatamkan Al-Quran.

Khatam Quran bukan bermakna tamatnya hubungan dengan Al-Quran. Sebaliknya ia menjadi pemangkin untuk terus membaca dan mengamalkan ajaran Al-Quran.

Selepas tamat membaca keseluruhan Al-Quran, digalakkan untuk membaca doa khatam Quran sebagai tanda kesyukuran akan kejayaan berjaya menghabiskan bacaan Al-Quran. Terdapat beberapa versi doa khatam quran yang boleh dibaca, ada yang pendek dan panjang.


Doa Khatam Quran – Versi Pendek 

الّلَهُمَ ارْحَمْنَا بِالْقُرْآن، واجْعَلْهُ لَنَا إمَامَاً وَنُوْرَاً وَهُدَىً ورحمةً الّلَهُمَ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نسيْنَا، وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأطْرَافَ الْنَهَار واجْعَلهُ لَنَا حُجَّةٌ يَا ربَّ الْعَالَمِيْن

Bacaan Rumi:

Allaahummarhamnaa Bil Qur’aan,  Waj’alhu Lanaa Imaaman Wa Nuuran Wa Hudan Wa Rohmah, Allaahumma Dzakkirnaa Minhu Maa Nusiinaa Wa ‘allimnaa Minhu Maa Jahilnaa,  Warzuqnii Tilaa Watahu Aanaa-Al Laili Wa Athroofan Nahaar,  Waj’alhu Lanaa Hujjatan Yaa Rabbal ‘aalamiin.

Maksudnya: 

Ya Allah rahmatilah kami dengan al-Quran, dan jadikanlah ia sebagai imam, cahaya, petunjuk, serta rahmat bagi kami. Ya Allah ingatkanlah kami daripadanya apa yang telah kami dilupakan, dan ajarkan kami darinya apa yang kami jahil serta rezekikanlah kami untuk membacanya siang dan malam, dan jadikanlah ia sebagai hujah kepada kami wahai Tuhan sekalian alam.

doa khatam quran


Doa Khatam Quran – Versi Panjang 1 

ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ الْعَالِمِينَ. حَمْدًا شَاكِرِينَ. وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِنَا مُحَمَّدٍ وَءَالِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ إِنَّكَا

أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْنا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ وَاهْدِنَا وَوَفِّقْنَا إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمِ. بِبَرَكَةِ الْقُرْءآنِ الْعَظِيْمِ.

اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالقُرْءَانِ. وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنًورًا وَهُدًا وَرَحْمَةً. اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِينَا. وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا. وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ ءَانَآءَالَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ. وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الْقُرْءَانِ. وَأَكْرِمْنَا بِكَرَامَةِ الْقُرْءَانِ. وَشَرِّفْنَا بِشَرَافَةِ الْقُرْءَانِ. وَأَلْبِسْنَا بِخِلْعَةِ الْقُرْءَانِ. وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ بِشَفَاعَةِ الْقُرْءَانِ. وَعَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلَآءِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْأَخِرَةِ بِحُرْمَةِ الْقُرْءَانِ اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْءَانَ لَنَا فِى الدُّنْيَا قَرِيْنًا وَفِي الْقَبْرِ مُؤْنِسًا. وَفِى الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا وَعَلَى الصِّراطِ نُوْرًا. وَإِلَى الْجَنَّةِ رَفِيْقًا وَمِنَ النَّارِ سِتْرًا وَحِجَابًا. وَإِلَى الْخَيْرتِ كُلِّهَا دَلِيْلاً وَإِمَامًا. بِفَضْلِكَ وَجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ يَا كَرِيْمُ اَللَّهُمَّ اهْدِنَا بِهَدَايَةِ الْقُرْءَانِ. وَنَجِّنَا مِنَ النِّيْرَانِ بِكَرَامَةِ الْقُرْءَانِ. وَارْفَعْ دَرَجَاتِنَا بِفَضِيلَةِ الْقُرْءَانِ. وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا بِتِلَاوَةِ الْقُرْءَانِ. يَا ذَا الْفَضْلِ وَالْإِحْسَانِ رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الأخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار .

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. سُبْحنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالِمِيْنَ

Maksudnya: 

“Segala puji tertentu bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam, pujian orang-orang yang bersyukur dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa. Dan selawat dan salam ke atas rasul kita Muhammad dan juga ke atas keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

Ya Allah, Tuhan kami terimalah doa kami dan amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Yang Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Mengasihi. Tunjuk dan bimbinglah kami kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus dengan berkat Al-Quran.

Ya Allah, kasihanilah kami dengan berkat Al-Quran, dan jadikannya sebagai pimpinan, cahaya, petunjuk dan rahmat untuk kami. Ya Allah, ingatkanlah kami apa yang telah kami lupa dari Al-Quran, dan ajarlah kami apa yang kami tidak tahu tentang isi Al-Quran, dan kurniakanlah kami keupayaan untuk membacanya pada waktu-waktu malam dan siang, dan jadikanlah Al-Quran itu sebagai hujjah untuk kami. Wahai Tuhan pemelihara sekalian alam.

Ya Allah, hiaskanlah diri kami dengan keindahan Al-Quran, muliakan kami dengan kemuliaan Al-Quran, dan serikan kami dengan ketinggian martabat Al-Quran, dan pakaikan kami dengan pakaian permata Al-Quran, masukkan kami ke dalam syurga dengan syafaat Al-Quran, selamatkan kami daripada segala bencana dunia dan azab hari akhirat dengan berkat kehormatan Al-Quran.

Ya Allah, jadikanlah Al-Quran semasa hidup kami di dunia sebagai rakan dan di dalam kubur sebagai kawan yang mesra, pada hari kiamat sebagai pembantu, sebagai cahaya penyuluh, semasa menuju ke syurga sebagai teman, dan sebagai penghadang dan pendinding dari api neraka, dan jadikanlah Al-Quran untuk kami sebagai panduan dan ikutan kepada segala kebaikan, dengan limpah kurnia, kemurahan dan kemuliaan Mu jua ya Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah.

Ya Allah, tunjukilah kami dengan petunjuk Al-Quran, selamatkanlah kami daripada api neraka dengan sebab kemuliaan Al-Quran, tinggikanlah darjat martabat kami dengan sebab kelebihan Al-Quran, dan hapuskanlah dosa kejahatan kami dengan sebab membaca al-Quran, ya Allah, Tuhan Yang Empunya segala macam kelebihan dan ehsan. Wahai Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab api neraka.

Allah mencucuri rahmat dan salam sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW serta keluarga dan sahabat-sahabat baginda sekalian. Maha Suci Tuhanmu, Tuhan yang mempunyai keagungan dan kekuasaan dari apa yang mereka katakan dan selamat sejahtera kepada sekalian Rasul. Dan segala puji tertentu bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan seluruh alam.”


Doa Khatam Quran – Versi Panjang 2

doa khatam quran 1

doa khatam quran 1

Maksudnya: 

Maha benar Allah yang Maha Agung, dan RasulNya Nabi yang mulia dan kami bersaksi atas kebenaran hal tersebut. Ya Rabb kami, terimalah amalan kami, karena sesunggguhnya Engkau maha mendengar dan maha mengetahui.

Ya Allah anugerahkanlah kepada kami kenikmatan/kemanisan bagi tiap-tiap huruf daripada Al Qur’an, dan balasan bagi tiap2 juz dari Al Qur’an. Ya Allah jadikanlah huruf alif sebagai kelembutan, huruf ba barokah, ta taubah, tsa pahala, jim kecantikan, ha hikmah, kha kebaikan, dal dalil/petunjuk, dza kecerdasan, ra rahmah, za kesucian, sin kebahagiaan, syin syifaa/obat, shad kebenaran, dho cahaya, tho ketenangan (?), dzo keluasan,`ain ilmu, gho kekayaan, fa kemenangan, qo kedekatan, qaf kemuliaan, lam kelembutan, mim nasehat, nun cahaya, wa wushlah/sarana (?), ha petunjuk, ya keyakinan.

Ya Allah berikanlah kami manfaat dengan Al Qur’an yang agung dan tinggikanlah derajat kami dengan ayat-ayatnya dan terimalah bacaan kami dan maafkanlah segala kesalahan, kelupaan, perubahan kalimat dari tempatnya, mengawalkan atau mengkahirkan, penambahan atau pengurangan, penafsiran yang tidak sesuai dengan apa yang Engkau turunkan, keraguan atau sahwun (?), sui ilhanin(?), dan terburu2 ketika tilawah, kemalasan atau kesesatan lidah, waqof (berhenti) bukan pada tempatnya, mengidghomkan (mendengungkan bacaan) yang bukan idghom, mengidzharkan (bacaan tanpa dengung) yang bukan idzhar, madd (memanjangkan bacaan), mentasydid, hamzah, atau sukun, i’rab yang bukan pada tempatnya, atau kurangnya rasa cinta dan senang terhadap ayat2 yang memberi berita gembira, dan kurangnya rasa takut ketika membaca ayat2 ancaman, maka ampunilah kami ya Allah, dan jadikanlah kami sebagai orang yang syahid.

Ya Allah terangilah hati kami dengan Al Qur’an, dan hiasilah akhlak kami dengan Al Qur’an, jauhkanlah kami dari api neraka dengan Al Qur’an, masukkanlah kami ke surgamu dengan Al Qur’an. Jadikanlah Al Qur’an sebagai teman di dunia, di dalam kubur sebagai penerang/teman , cahaya di atas titian (shirath), dan teman di dalam surga, dan penghalang dan hijab dari api neraka, sebagai petunjuk untuk segala kebaikan dan tetapkanlah kami dalam kesempurnaan , anugerahkan kepada kami kemudahan dlm mengamalkan Al Qur’an dgn hati dan lisan, senantiasa cinta kpd kebaikan, kebahagiaan, kegembiraan atau keindahan iman. Dan selawat dan salam yg senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW dan para sahabat atas kebaikan akhlak dan kelembutan budi pekertinya di atas cahaya arsy.

Amin ya Rabbal ‘Alamin.


Tata Cara Membaca Doa Khatam Quran

Untuk memastikan doa khatam Quran dibaca dengan penuh khusyuk dan diterima Allah SWT, berikut adalah beberapa panduan yang boleh diikuti:

  1. Pilih masa yang sesuai: Sebaik-baiknya, pilih waktu yang tenang dan khusyuk untuk membaca doa ini. Ramai ulama mencadangkan waktu sepertiga malam terakhir sebagai masa yang paling mustajab untuk berdoa.
  2. Berwudhu: Pastikan anda dalam keadaan suci sebelum membaca doa. Berwudhu bukan sahaja menyucikan fizikal, tetapi juga membantu menenangkan minda.
  3. Menghadap kiblat: Jika boleh, hadapkan diri ke arah kiblat semasa berdoa. Ini membantu meningkatkan fokus dan kekhusyukan.
  4. Mulakan dengan memuji Allah: Sebelum membaca doa utama, mulakan dengan memuji Allah SWT dan berselawat ke atas Nabi Muhammad SAW.
  5. Baca dengan penuh penghayatan: Fahami makna doa yang dibaca. Jika tidak fasih dalam bahasa Arab, boleh membaca terjemahan selepas membaca dalam bahasa Arab.
  6. Angkat tangan: Mengangkat tangan semasa berdoa adalah sunnah Rasulullah SAW dan menunjukkan kerendahan hati kita kepada Allah SWT.
  7. Akhiri dengan Amin: Selepas membaca doa, ucapkan “Amin” sebagai penutup dan permohonan agar doa diterima.

Kelebihan Membaca Doa Khatam Quran

Membaca doa khatam Quran membawa pelbagai kelebihan dan faedah kepada pembacanya. Antara kelebihan tersebut adalah:

  1. Mendapat rahmat Allah: Di dalam doa khatam quran, kita memohon agar Allah SWT merahmati kita dengan Al-Quran, menjadikan kita di antara hamba-Nya yang dirahmati.
  2. Meningkatkan kefahaman: Melalui doa khatam quran ini juga, kita memohon agar Allah SWT mengajarkan kita apa yang tidak kita ketahui dari Al-Quran, sekali gus meningkatkan kefahaman kita terhadap kitab suci ini.
  3. Memperoleh petunjuk: Al-Quran adalah petunjuk bagi umat manusia. Dengan berdoa agar Al-Quran menjadi pemimpin dan cahaya, kita memohon petunjuk dalam kehidupan seharian.
  4. Mendapat syafaat: Pada hari kiamat kelak, Al-Quran akan menjadi pemberi syafaat kepada pembacanya. Doa khatam quran ini memohon agar Al-Quran menjadi hujah yang membela kita di hadapan Allah SWT.
  5. Meningkatkan keimanan: Proses membaca Al-Quran dan menutupnya dengan doa ini secara tidak langsung meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Kelebihan Membaca Quran

doa khatam quran

Bukan sahaja membaca doa khatam quran mempunyai kelebihan, membaca quran itu sendiri juga mempunyai banyak kelebihan dan ganjaran yang dijanjikan oleh Allah SWT. Antaranya ialah:

1. Mendapat pahala dan ganjaran berlipat ganda

Setiap huruf yang dibaca akan diganjarkan dengan 10 kebaikan. Membaca Al-Quran secara konsisten akan mengumpulkan pahala yang besar.

 “مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ {الم} حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ.”

Terjemahan: “Sesiapa yang membaca satu huruf daripada Kitab Allah (Al-Quran), maka baginya satu pahala, dan satu pahala itu digandakan menjadi sepuluh kali ganda. Aku tidak berkata ‘Alif Lam Mim’ adalah satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (Hadis Riwayat Tirmizi).

2. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan

Membaca Al-Quran membantu meningkatkan hubungan spiritual dengan Allah SWT, memperkuat iman dan mendorong ketakwaan. 

“إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ”

Terjemahan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya) ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatNya) gementarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya maka bertambah (kuat) imannya dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah diri.”

3. Memberi ketenangan jiwa dan mengurangkan tekanan

Al-Quran bertindak sebagai penawar bagi hati yang gelisah dan tidak tenang. 

“الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”

Terjemahan: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.”

4. Merangsang aktiviti mental dan meningkatkan fungsi kognitif

Proses membaca, memahami dan menghafal Al-Quran merangsang otak dan meningkatkan daya ingatan. 

5. Mendapat syafaat (pertolongan) pada hari kiamat

Al-Quran akan menjadi pemberi syafaat bagi pembacanya di akhirat kelak. 

5. Memperbaiki Akhlak

Membaca Al-Quran secara konsisten membantu memperbaiki akhlak dan tingkah laku seseorang. Lebih-lebih lagi, dengan memahami dan mentadabbur makna ayat-ayatnya.

Akhir kata, semoga Allah SWT memberkati setiap usaha kita dalam membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Quran.

Rujukan:

  1. AL-KAFI #1277: MANAKAH LEBIH TEPAT DALAM DOA KHATAM AL-QURAN : SEBUTAN NASIINA ATAU NUSSIINA? – Mufti WP
  2. Doa Khatam Al-Quran – MyJakim
  3. Doa Khatam Al-Quran (Versi Panjang) – islamicacademy.org
Continue Reading

AGAMA

Nafkah Suami Kepada Isteri Dalam Perkahwinan Islam

Published

on

By

Nafkah Suami Kepada Isteri

Nafkah Suami Kepada Isteri Dalam Perkahwinan Islam

Di zaman moden ini, peranan wanita dalam ekonomi keluarga semakin signifikan, dengan ramai isteri yang turut bekerja dan menyumbang kepada kewangan rumah tangga. Namun begitu, tanggungjawab suami untuk menunaikan nafkah terhadap isteri tetap merupakan kewajipan yang tidak boleh diabaikan. Artikel ini akan membincangkan lebih lanjut mengenai konsep nafkah dalam Islam, termasuk tanggungjawab suami kepada isteri serta hak-hak nafkah selepas penceraian.

Apa Itu Nafkah Suami Kepada Isteri?

Secara definisi, Nafkah Suami Kepada Isteri merujuk kepada kewajipan seseorang untuk menyediakan perbelanjaan atau sara hidup kepada mereka yang berada di bawah tanggungannya. Ini termasuk isteri, anak-anak, dan individu lain yang berhak seperti anak angkat atau ahli keluarga yang memerlukan. Nafkah Suami Kepada Isteri meliputi beberapa aspek seperti:

  1. Makanan: Bekalan keperluan asas harian seperti makanan dan minuman.
  2. Pakaian: Pakaian yang bersesuaian mengikut keperluan semasa.
  3. Tempat Tinggal: Kediaman yang selamat dan sesuai untuk kehidupan bersama.
  4. Pendidikan dan Agama: Keperluan pendidikan, terutama untuk anak-anak, serta keperluan keagamaan seperti pendidikan Islam.
  5. Perubatan: Kos rawatan kesihatan bagi isteri dan anak-anak yang ditanggung.
Nafkah Suami Kepada Isteri

Nafkah Suami Kepada Isteri

Dalam konteks perkahwinan, Nafkah Suami Kepada Isteri yang wajib diberikan oleh suami kepada isteri bukan sahaja melibatkan perkara-perkara di atas, tetapi juga perhatian dan kesejahteraan psikologi. Islam meletakkan tanggungjawab ini sebagai suatu kewajipan yang mesti ditunaikan, tidak kira sama ada isteri turut bekerja atau tidak.

Nafkah Suami Kepada Isteri Semasa Perkahwinan

Menurut fatwa dan panduan dari JAKIM serta sumber-sumber Islam, nafkah suami kepada isteri semasa perkahwinan merangkumi beberapa elemen penting yang tidak boleh diabaikan, termasuk:

  • Barang-barang Dapur: Keperluan asas untuk memasak dan menyediakan makanan harian.
  • Alat-alat Pembersihan Diri: Barangan untuk kebersihan diri seperti sabun dan syampu.
  • Pembantu Rumah: Jika kebiasaan isteri mempunyai pembantu, dan suami berkemampuan, beliau wajib menyediakan pembantu kepada isteri (jika ada).

Tanggungjawab nafkah ini termasuk dalam kategori wajib menurut hukum syarak dan ditekankan dalam kitab-kitab fiqh seperti Mughni al-Muhtaj (4/542).

Nafkah Selepas Penceraian

Penceraian tidak secara automatik menggugurkan tanggungjawab nafkah terhadap bekas isteri, terutama dalam tempoh edah. Nafkah selepas penceraian bergantung kepada jenis talak yang diberikan oleh suami. Terdapat tiga kategori nafkah selepas penceraian berdasarkan jenis talak:

  1. Talak Raj’i (Rujuk): Dalam tempoh edah talak raj’i, suami masih wajib menyediakan nafkah kepada bekas isteri termasuk makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
  2. Talak Bain: Dalam kes talak bain, bekas isteri hanya layak mendapatkan nafkah tempat tinggal sepanjang tempoh edah. Sekiranya isteri hamil ketika diceraikan, dia berhak mendapat nafkah penuh seperti talak raj’i.
  3. Talak Sebelum Persetubuhan: Sekiranya talak berlaku sebelum persetubuhan, isteri tidak berhak menerima nafkah.

Peruntukan ini dijelaskan dalam panduan syariah dan menjadi asas kepada pelaksanaan undang-undang keluarga Islam di Malaysia.

Jenis-Jenis Nafkah Suami Kepada Isteri yang Boleh Dituntut

Selepas penceraian, bekas isteri berhak menuntut beberapa jenis nafkah di Mahkamah Syariah. Antara jenis nafkah yang boleh dituntut adalah seperti berikut:

  1. Nafkah Edah: Ini merujuk kepada nafkah yang wajib diberikan kepada isteri dalam tempoh edah talak raj’i, meliputi makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
  2. Mut’ah: Bayaran yang wajib diberikan oleh suami kepada isteri yang diceraikan tanpa sebab munasabah. Kadar mut’ah boleh dipersetujui oleh kedua-dua pihak atau ditentukan oleh Mahkamah Syariah jika terdapat pertikaian.
  3. Harta Sepencarian: Harta yang diperolehi sepanjang tempoh perkahwinan boleh dituntut oleh bekas isteri atau suami. Ini termasuk wang, harta alih, harta tak alih, atau aset lain yang diperolehi secara bersama.
  4. Tunggakan Nafkah: Jika suami gagal melaksanakan tanggungjawab nafkah semasa tempoh perkahwinan, tunggakan nafkah tersebut boleh dituntut di Mahkamah.
  5. Nafkah Anak: Tuntutan nafkah anak boleh dibuat jika bekas suami gagal memenuhi perintah nafkah yang dikeluarkan oleh Mahkamah Syariah. Ini termasuk perbelanjaan makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan perubatan anak-anak.

Hak Jagaan Anak (Hadhanah)

Dalam Islam, hak jagaan anak yang belum mencapai umur dewasa secara umum diberikan kepada ibu, terutama bagi anak lelaki yang berumur di bawah 7 tahun dan anak perempuan di bawah 9 tahun. Jika berlaku pertikaian mengenai hak jagaan anak, Mahkamah Syariah akan membuat keputusan berdasarkan kepentingan anak tersebut. Bagi anak-anak yang telah melebihi had umur ini, Mahkamah akan mempertimbangkan pilihan mereka sama ada mahu tinggal bersama ibu atau bapa.

Bilakah Kegagalan Menunaikan Nafkah Dikira Sebagai Hutang?

Kegagalan menunaikan nafkah oleh suami dianggap sebagai hutang yang wajib dibayar apabila suami tidak menunaikan nafkah yang telah ditetapkan. Hutang nafkah isteri dikira bermula dari saat kegagalan menunaikan kewajipan tersebut, manakala hutang nafkah anak bermula selepas adanya perintah Mahkamah.

Dokumen Tuntutan Nafkah

Bagi isteri atau bekas isteri yang ingin menuntut nafkah di Mahkamah Syariah atau Jabatan Bantuan Guaman, dokumen-dokumen yang diperlukan termasuklah:

  • Kad pengenalan
  • Surat perakuan nikah
  • Surat perakuan cerai
  • Sijil kelahiran anak
  • Penyata gaji atau bukti pendapatan suami

nafkah isteri 1024x722 1

nafkah anak 1024x719 1

Kesimpulan

Nafkah adalah tanggungjawab besar bagi suami dalam menjaga kebajikan isteri dan anak-anak. Biarpun situasi zaman moden telah menyaksikan perubahan besar dalam peranan wanita, Islam masih mengekalkan hak dan tanggungjawab ini sebagai asas dalam menguruskan rumah tangga. Suami perlu memenuhi tanggungjawab nafkah sepanjang tempoh perkahwinan, dan dalam beberapa kes, selepas penceraian. Pematuhan terhadap tanggungjawab nafkah ini bukan sahaja memberi keadilan kepada isteri, tetapi juga memastikan keharmonian rumah tangga dan kesejahteraan ahli keluarga.

Rujukan:

Baca juga:

Ada 3 Perkara Yang Isteri WAJIB Tuntut HAK NAFKAHNYA. Yang Lainnya Ikutlah Kemampuan Seorang Suami

Nafkah untuk isteri tak termasuk keperluan barang dapur, Para suami kena ingat dan Wajib tahu.

Mana Yang Didahulukan Nafkah Ibu Bapa atau Isteri

Sedakah Yang Paling Terbaik Adalah Sedekah Kepada Ahli Keluarga Sendiri. Jangan Abai Nafkah Anak Dan Isteri

 

Continue Reading

Trending