Connect with us

AGAMA

Kisah Telaga Milik Ustman Bin Affan Iaitu Sahabat Nabi Muhammad SAW Yang Masih mengalir Dan Manfaatnya Dapat Dinikmati Sehingga Sekarang, Banyak Ganjaran Yang Diterima Oleh Sahabat Nabi SAW Ini dengan Amal Jariahnya

Published

on

Kisah Telaga Milik Ustman Bin Affan Iaitu Sahabat Nabi Muhammad SAW Yang Masih mengalir Dan Manfaatnya Dapat Dinikmati Sehingga Sekarang, Banyak Ganjaran Yang Diterima Oleh Sahabat Nabi SAW Ini dengan Amal Jariahnya

Harta serta termasuk ilmu pengetahuan yang bermanfaat merupakan saham atau amalan yang boleh disampaikan dan diamalkan kepada mereka yang masih hidup dimana manfaatnya berbalik kepada orang yang menyampaikan ilmu tersebut walau mereka telah meningg4l. Keberkatan sesuatu harta yang disedekahkan amatlah diimpikan oleh orang mukmin agar ianya terus memberikan pahala yang berpanjangan walaupun setelah meningg4l.

Dalam kisah yang dikongsikan kali ini, ianya merupakan sebuah Sumur atau telaga milik Ustman Bin Affan iaitu salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, yang masih mengalir dan manfaatnya dapat dinikmati sehingga sekarang. Cuba bayangkan berapa banyaknya ganjaran yang diterima oleh sahabat Nabi SAW ini dengan amal jariah yang dibuatnya. Sila ikuti perkongsian kisah disebalik pemilikan sumur tersebut.

Ustman bin Affan RA adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang pernah menjadi khalifah pada masanya. Ia terkenal paling kaya dibanding empat sahabat Nabi lainnya. Kekayaannya menjadi pelaburan akhirat karena dimanfaatkan untuk kebaikan umat. Salah satu peninggalan dari kekayaan Ustman adalah Sumur Raumah yang berada di Madinah. Saat itu Ustman prihatin dengan keadaan kaum mukmin yang mend3rita kekeringan sumber air. Ia kemudian membeli sumur tersebut dan diwakafkan untuk umat.

Meski usianya sudah lebih dari 1400 tahun, namun sumur ini tetap mengalir hingga saat ini. Kementerian Pertanian Arab Saudi memanfaatkan sumber air ini untuk mengairi perkebunan di sekitarnya. Bagaimana lengkapnya? Pada masa itu, Madinah mengalami kemarau yang panjang dan hanya sumur ini yang masih mengeluarkan airnya. Kaum mukmin kesusahan mendapatkan air untuk minum dan berwudhu sehingga rela berjalan kaki dalam jarak yang jauh untuk mendapatkan air dari sumur Raumah.

Namun, sumur ini adalah milik seorang Y4hudi yang sengaja memasang tarif tinggi untuk setiap air yang diambil. Tentu saja hal ini semakin mempersul!t keadaan kaum mukmin pada waktu itu.

Rasulullah SAW yang sangat prihatin dengan kondisi ini kemudian bersabda yang artinya “Wahai Sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat maka akan mendapat surga-Nya Allah Taala.” (HR Muslim).

Akhirnya majulah Ustman bin Affan berniat untuk membeli sumur itu dengan harga yang tinggi. Namun, Y4hudi ini tidak mau dan bersikeras untuk tetap memiliki sumurnya. Namun, Ustman tidak menyerah, Ia kembali menawarkan harga tinggi hingga akhirnya orang Y4hudi tadi tergiur.

Namun orang Y4hudi ini tidak mau menjual keseluruhannya. Beliau tetap ingin memiliki setengah kepemilikan dari sumur tersebut. Akhirnya Ustman setuju, ia membagi waktu kepemilikan sumur, sehari milik Ustman dan esoknya milik orang Y4hudi.

Pada hari-hari dimana sumur itu adalah milik Ustman, ia pun memerintahkan kaum mukmin mengambil air untuk persediaan dua hari. Besoknya, sumur itu menjadi milik Y4hudi dan kaum mukmin harus membeli jika ingin mengambil air. Namun, karena saat menjadi milik Ustman kaum mukmin mengambil untuk dua hari, maka esoknya tidak ada yang membeli. Sehingga orang Y4hudi ini sepi pembeli.

Akhirnya ia mendatangi Ustman dan kembali menjual sumurnya secara keseluruhan. Akhirnya, sumur ini menjadi miliknya dan diwakafkan untuk kaum mukmin. Bahkan, orang Y4hudi tersebut tetap bisa menikmati airnya dengan gratis.

Pantas saja, Nabi bersabda Allah SWT menjanjikan surga bagi siapa saja yang membebaskan sumurnya. Dilihat dari manfaatnya, bisa dirasakan hingga saat ini. Sumur Raumah mengairi area perkebunan kurma yang hasilnya dibagikan untuk fakir miskin yang ada di sana. Sungguh, pahala Ustman untuk Ustman terus mengalir meskipun ia sudah meningg4lkan kita.

Hidup ini hanyalah sementara, Akhirat yang berkekalan. Oleh itu marilah kita menginfakkan sebahagian harta kita agar ianya dapat memberikan manfaat kepada kita walapun kita telah meninggal. Semoga Allah SWT memberi keberkatan atas harta yang diinfakkan dengan ikhlas hati dan dapat memanfatkan makhluk lain di atas muka bumi ini serta memberi ganjaran kepada kita walaupun telah tiada di atas muka bumi ini.

Sumber:kabarislami

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

error: Content is protected !!